Jumat, 10 Mei 2002

CIRI - CIRI AKTIVIS DAKWAH

Para aktivis dakwah adalah pemegang kendali peri ngatan. Mereka selalu siap memberi peringatan saat terjadi bahaya. Meskipun dalam keadaan tidur, mereka harus tetap berjaga. Mereka harus siap dalam segala keadaan. Karena itulah, para aktivis dakwah yang sesungguhnya adalah mereka yang memiliki ciri – ciri, tanda dan sifat yang berbeda dengan manusia biasa.

Sifat dan ciri – ciri itu harus selalu melekat pada diri mereka dan tidak boleh lepas sesaat pun, karena ciri – ciri itu merupakan ungkapan kebenaran hidayah dan cahaya yang didakwahkannya.

1. Aktivis dakwah harus berpandangan positif

Aktivis dakwah adalah ruh yang penuh dengan kebenaran, kegigihan, cita – cita, dan kebangkitan. Tugas mereka yang utama adalah memandang kehidupan dengan mata yang jeli dan pandangan yg tajam. Apabila melihat kelesuan, mereka bergegas meniupkan ruh mereka untuk memberi kekuatan dan apabila melihat penyelewangan, mereka segera berteriak meluruskannya.

2. Aktivis dakwah harus memiliki kemauan keras

Ada sebuah fenomena psikologis yang mengagumkan di kalangan orang – orang timur – yang dirasakan orang banyak dan juga kita rasakan- bahwa kita sering menggambarkan keyakinan kita terhadap suatu ideologi kepada orang lain, dengan keyakinan itu kita mampu menghancurkan gunung, mengarungi lautan, dan melintasi bahaya yg menantang kita, sampai ideologi itu menang bersama kita dan kita menang bersamanya, (risalah dakwatuna).

3. Aktivis dakwah harus dermawan

Mari kita tengok sepintas tentang seorang pemuda yang menyerahkan hartanya untuk dakwah. Ia selalu duduk bekerja, berijtihad dan berpikir keras di kantornya sejak sore hingga larut malam. Dalam hari – hari di sepanjang bulan, ia terus melakukan itu. Sampai ketika akhir bulan tiba, ia pun mengumpulkan pendapatannya untuk kemudian menginfakannya untuk jamaah dan dakwahnya. Ia menjadikan hartanya sebagai sarana mencapai tujuan suci dakwah ini.

4. Aktivis dakwah harus siap berkorban

Seorang yang pertama kali bergabung dalam dakwah dan menjadikan dakwah sebagai pilihan jalannya, akan mengetahui bahwa dakwah tidak akan berjalan tanpa pengorbanan. Bagaimana tidak? Pada awalnya, dakwah telah ditegakan di atas pengorbanan para pengikutnya.

Bukankah Rasulullah SAW. Telah mengorbankan hidupnya untuk menyebarkan dakwah ini, ketika musuh bersekongkol untuk membunuhnya. Pengorbanan adalah Tema Dakwah. Demikianlah keadaan setiap orang yang membawa panji dakwah dan telah berjanji kepada Allah untuk menolong dakwahnya.

5. Aktivis dakwah harus memiliki semangat tinggi

“sesungguhnya, umat yang dilingkupi oleh situasi sabagaimana yang ada sekarang ini, yang hendak bangkit untuk suatu kepentingan sebagaimana kepentingan dakwah yang menghadapi berbagai tantangan, tidak patut bersantai –santai dan hanya berkhayal. Sebaliknya, ia harus menyiapkan diri untuk memikul beban perjuangan berat di perjalanan yang panjang, untuk menghadapi pertempuran antara al-haq dan al-bathil, antara maslahat dan mafsadat, antara pemilik kebenaran dan perampasnya, antara peniti jalan yang lurus dan pengacaunya, antara para da’i yang tulus di satu sisi dan da’i palsu di sisi yang lain. Ia harus memahami bahwa perjuangan itu identik dengan kelelahan dan kesulitan. Sebaliknya, kata “santai” tidak pernah berdampingan sedikitpun dengan kata “jihad”.

6. Aktivis dakwah harus bijaksana

Para aktivis dakwah harus bijaksana dalam segala perilakunya, dan memiliki prioritas dalam kegiatannya. Ia harus memilih yang paling penting kemudian yang penting. Dalam berdakwah, ia harus memfokuskan diri pada masalah aqidah sebelum masalah ibadah, mendahulukan masalah akhlak dan kewajiban sebelum menyampaikan hal – hal yang sunnah. Ia juga harus mengutamakan menolak bahaya daripada menuai kebaikan. Bijaksana adalah sikap yang diperintahkan oleh Allah dalam berdakwah.

“serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya, Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang labih mengetahui orang – orang yang mendapat petunjuk.” (an – Nahl (16) : 125)

7. Aktivis dakwah harus menjadi teladan bagi orang lain

Para aktivis dakwah sangat memahami bahwa kebutuhan manusia yang paling pokok di zaman kita sekarang ini adalah Qudwah hasanah (teladan yang baik). Dengan contoh yang baik, manusia akan percaya dan meyakini fikrah islamiyah yang dibangun di atas amal, bukan kata – kata, dan ditegakan dengan perbuatan, bukan ungkapan manis.

Manusia sekarang membutuhkan teladan yang mampu memotivasi mereka untuk maju bukan mundur. Mereka membutuhkan teladan yang mampu menampilkan agama ini, yang diyakini dan direalisasikan kebenarannya oleh para pemeluknya sebelum memerintahkan kepada orang lain.

“hai orang – orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah jika kamu mengatakan apa – apa yang tidak kamu kerjakan.” (ash – shaff (61) : 2-3)

8. Aktivis dakwah harus berjiwa sosial

Manusia adalah makhluk sosial, selalu berhubungan dengan orang lain, dan beradaptasi dengan orang disekitarnya. Mereka terpengaruh dan mempengaruhi orang lain. Mereka mengambil dari orang lain dan memberikan kepada orang lain. Meskipun manusia berusaha menutup diri dan menjauhkan diri dari orang lain, pasti suatu saat akan mendatanginya dan bergaul dengannya.

Orang yang suka menutup diri, berarti ia tidak memiliki jiwa sosial, dan barangsiapa yang tidak berjiwa sosial, maka ia tidak layak menjadi bagian dari pendukung dakwah ini yang tegak di atas pilar ta’aruf. Karena dakwah ini harus disebarkan di tengah – tengah masyarakat dan terbuka untuk semua manusia. Risalah islam ini harus disampaikan kepada mereka yang tidak mengetahuinya dan diperlihatkan kepada mereka kebaikan – kebaikan syariatnya, hingga kepada musuh sekalipun. Untuk mengalahkan mereka, perlu diperlihatkan keteladanan dan perkataan yang baik dari Islam.

Tugas yang demikian tidak mungkin diperankan oleh orang yang secara sosial tersisihkan dari masyarakat, orang yang hanya duduk santai di rumah sambil menunggu orang yang menggerakan dan mendorongnya ke depan.

9. Aktivis dakwah harus mampu mengkoordinasikan semua potensi

Aktivis dakwah adalah pemimpin. Dia adalah orang yang cerdas, dan memiliki kelebihan dalam kecerdasannya. Dia adalah pribadi yang menolak kemalasan, menghindari eksklusivitas, dan tidak lamban dalam berdakwah. Dia adalah sosok yang mampu mengelola kekuatan, dan memanfaatkan semua potensi yang ada, baik yang kecil maupun yang besar.

Diantara kesalahan yang sering terjadi dalam hal pembagian kerja bagi aktivis dakwah adalah sering kali sebuah pekerjaan hanya diberikan kepada orang yang terlihat rajin dan optimis - karena memang, merekalah orang yang paling siap untuk menunaikan tugas –tugas yang diberikan. Sementara pribadi yang suka menutup diri, dan hubungan sosialnya rendah, tidak pernah dibebani pekerjaan. Akibatnya, mereka akan selalu minder dalam melaksanakan tugas dakwahm hilang kepercayaan diri mereka, dan takut akan tanggung jawab. Kemudian, mereka menjadi semakin berat untuk berdakwah. Kontribusi mereka berkurang dan akhirnya mereka menjadi beban berat bagi dakwah.

10. Aktivis dakwah harus selalu mengutamakan kerja

Para aktivis dakwah percaya dan meyakini kebenaran persamaan dalam matematika, yaitu “komitmen = kerja”.

Gerakan dakwah yang para pengikutnya tidak mau bekerja dan beraktivitas akan mudah redup dan mati. Karenanya, agar dakwah tetap tegar, berlangsung terus dan berkembang, makna para pengikutnya harus terus bekerja. Mereka tidak tidur di malam hari demi kemenangan dan meninggika kalimat dakwah serta pahala dari Allah. Terlebih, jika dakwah ini adalah dakwah islamiyah yang syiarnya Allah Ghayatuna (Allah tujuan kami). Maka seharusnya mereka menentukan strateginya di malam hari dan merealisasikannya di siang hari.

Dikutip dari “memperbarui komitmen dakwah, Muhammad Abduh”.

Baca selengkapnya

Dept. Infokom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar