Jumat, 27 Agustus 2010

Semoga bukan Kebersamaan yang Terakhir

“Perbanyaklah istighfar di rumah – rumah kamu, di tempat – tempat makan, di jalan – jalan, di pasar, di majelis – majelis kalian serta di mana saja kalian berada, karena sesungguhnya kalian tidak mengetahui kapan turunnya ampunan Allah “. (Hasan al Bashri)

Alhamdulillah, kita benar – benar akan kembali menghirup udara di bulan Ramadhan. Kita insya Allah, akan merasakan kembali hari – hari bahagia penuh penghambaan, kedekatan, ketundukan, kekhusyu’an, pada Allah yang Maha Rahman dan Maha Rahim. Dalam suasana seperti itu, terasa sekali kesenjanganbathin, yang tercipta, yang kita lakukan sendiri. Setelah 11 bulan kita berpisah dengan Ramadhan setahun silam, terlalu banyak amal – amal ibadah yang kita tinggalkan. Selama 11 bulan lamanya, kita telah menyia – nyiakan waktu. Banyak kebaikan yang telah tersemai dalam Ramadhan setahun lalu, makin lama makin kering dan kini nyaris mati. Kita, tenggelam dalam arus kesibukan dan belenggu keinginan yang tak akan pernah selesai dan tak berujung.

Saudaraku..., Syukurilah bila kita masih kembali bisa bersama – sama mencapai indahnya hari – hari di bulan suci. Merasakan kembali kedamaian dan kesejukan hati yang sulit dilukiskan di malam – malam Ramadhan. Keindahan makan sahur bersama, nikmatnya menahan makan minum di siang hari bersama, dan kelezatan buka bersama. Subhanallah....Orang yang berpuasa itu mempunyai dua kebahagiaan, kata Rasulullah. Yakni saat berbuka dan saat bertemu Rabbnya. Inilah saat kita menebus semua kelalaian dan kekurangan. Mari bersimpuh, tunduk, khusyu’ dan menagis ke hadirat-Nya...

Saudaraku..., Perbanyaklah mohon ampun kepadaNya. Inilah saat Allah Yang Maha Pengampun membuka pintu taubat dan maghfirah. Saat Allah Yang Maha Rahman mencurahkan kasih sayang – Nya yang tak terbilang. Saat Allah swt Yang Maha Pemurah menebar pahala amal shalih tanpa batas...Inilah saatnya kita mendekatkan diri pada Allah dan memperbanyak permohonan ampun atas semua khilaf. Allah sungguh – sungguh Maha Penerima taubat saudaraku.....

Perhatikanlah untaian hadits Rasulullah dalam Shahihain yang menjelaskan betapa keMaha Pengampun-Nya Allah swt. “ Sesungguhnya seorang hamba berbuat dosa, lalu dia berkata,”Wahai Tuhanku, saya berbuat dosa, maka ampunilah saya.” Allah berfirman, “ Hamba-Ku mengetahui bahwa ia memiliki Tuhan yang akan mengampuni dosa dan menghukumnya, maka Aku ampuni hambaKu.” Kemudian dia tinggal dalam masa yang dikehendaki Allah, dan dia berbuat dosa yang lain, kemudian mengatakan sebagaimana dikatakan pertama kali untuk kedua kalinya. Dalam riwayat muslim, orang itu berkata pada kali yang ketiga dengan perkataan yang sama, dan Allah berfirman, “Aku telah mengampuni hambaKu, maka lakukanlah apa yang ia kehendaki.”

Siapa saja yang melazimkan istighfar secaraa jujur dan tidak berniat melakukan dosa, maka dosanya akan diterima oleh Allah swt. Meskipun pada kesempatan yang lain orang tersebut melakukan dosa kembali. Kitab al Wafi yang menguraikan keterangan hadits ini, menyebutkan bahwa istighfar disertai dengan tidak terus menerus melakukan dosa adalah istighfar yang sempurna dan pasti mendapat ampunan. Berbeda dengan istighfar yang kurang diiringi dengan tekad untuk tidak melakukan dosa, yang kedudukannya sama dengan do’a. Terserah Allah, apakah ia akan mengampuni atau menolaknya. Bila dilakukan bertepatan dengan saat – saat dikabulkannya do,a seperti waktu sahur, setelah adzan, setelah shalat fardhu dan sebagainya, bisa saja do’a itu diterima jika Allah berkehendak. Karenanya, Hasan Al Bashri berkata, “ perbanyaklah istighfar di rumah – rumah kamu, di tempat – tempat makan, di pasar, di majlis – majlis kalianserta di mana saja kalian berada, karena sesungguhnya kalian tidak mengetahui kapan turunya pengampunan Allah.”

Saudaraku, Kita bukan sedang membicarakan betapa murahnya ampunan Allah agar kita bisa leluasa melakukan dosa. Sikap meringankan istighfar dan dosa, pernah diingatkan oleh sahabat Rasulullah saw, Hudzaifah ra. “ Orang berkata, “saya mohon ampun pada Allah,” kemudiaa dia mengulangi lagi perbuatannya, sama dengan orang yang takut dihukum berat tapi tetap mengerjakan perbuatan yang dapat menjadikannya dihukum. Sama dengan orang yang ingin panen tapi tidak mau menanam. Sama dengan orang yang mengharapkan anak tapi tidak mau menikah.” Kita sedang membicarakan istighfar sebagai pintu ampunan Allah yang harus kita ketuk, kapan pun, terlebih di bulan curahan rahmat seperti di bulan Ramadhan...

Saudaraku, tak ada kebutaan yang buruk kecuali orang yang tidak mampu atau tidak mau melihat kekurangan diri. Itulah kebutaan yang sebenarnya. Orang yang buta dengan kealpaan diri, adalah orang yang menyembunyikan aibnya dari matanya sendiri. Orang yang mengubur kesalahan dan dosa – dosanya dari hatinya. Mereka hidup dalam anggapan diri sempurna, baik, dan tidak terlalu banyak dosa sehingga ia terus menerus melakukan kekeliruan, kezhaliman, kekesatan hati, terus menerus rugi, terus menerus membuang kesempatan hidup yang sudah sangat terbatas.

Astaghfirullah...semoga kita tidak termasuk dalam golongan orang – orang yang disinggung dalam firman Allah swt. “Katakanlah, “ Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang – orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang – orang yang telah sia – sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sabaik – baiknya.” (Q.S. Al Kahfi : 103 – 104). Berada dalam kubang kesalahan tapi merasa tak punya salah. Hidup dalam gelap tapi merasa ada dalam terang. Bahkan, melihat orang lain penuh kesalahan dan berada dalam kegelapan. Itulah kebutaan sesungguhnya. Allah swt berfirman, “ Jika dikatakan pada mereka jangan meerusak di bumi, mereka mengatakan sesungguhnya kami adalah ornag – orang yang melakukan perbaikan .” (Q.S. Al Baqarah : 11).

Saudaraku, Kuatkanlah tekad kita untuk menghapus, menebus dosa, dalam bulan penuh barakah ini. Mengimbangi kekeliruan dan kesalahan kita yang terlalu banyak. Mengisi sisa waktu hidup di bulan suci dengan melakukan amal – amal shalih. Sebanyak – banyaknya. Siapa yang tahu, jika udara bulan Ramadhan tahun ini merupakan udara yang terakhir kali kita hirup ? Dan kita tak pernah lagi merasakan indah dan nikmatnya pahala Ramadhan? Semoga saja, ini bukan kebersamaan kita dalam bulan Ramadhan yang terakhir...Amin......

Dikutip dari" Mencari Mutiara di Dasar Hati", karya Muh Nursani.

by Infokom MPM AL Jihad Fisip.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar